Jumat, 30 Desember 2016

RESUME HAKIKAT ISLAM

RESUME “HAKIKAT ISLAM”

A.     ETIMOLOGI ISLAM
1.      Helmer Ringgren dalam bukunya “Islam, Aslama dan Muslim”
Profesor Helmer Ringgren dalam bukunya “Islam, Aslama, And Muslim” menjelaskan arti kata Islam dengan menghubungkan Islam dengan Musailamah (nabi palsu), menghubungkan kata Islam dengan kata salim (keselamatan), menghubungkan Islam dengan kata Ibrani Syalom (perjanjian antara Tuhan dan manusia), selain itu juga dengan manafsirkan Islam sebagai tantangan maut, dan pengorbanan diri untuk Tuhan dan Nabi-Nya. Di akhir tulisannya, Helmer mengartikan Islam dengan menyerah, tunduk, dan pasrah. Menyerah dan tunduk sebagai arti kata Islam sangat terlalu rohaniah bagi lingkungan dan tempat Nabi Muhammad Saw berdakwah. Arti itu hanya cocok bagi masyarakat yang sudah maju bukan masyarakat Muhammad saat itu (jahiliyah) titik pemberangkatan penjelasan bukan dari kata bendanya yaitu Islam, tetapi dari kata kerjanya, Aslama yang menunjuk kepada suatu tindakan dan proses,  yaitu proses perubahan mendasar.
2.      H.A.R Gibb dan J.H Kramers
H.A.R Gibb dan J.H Kramers menyebut bahwa Islam berasal dari kata aslama yang berarti penyerahan dan merupakan sikap mental seseorang terhadap Tuhan.


3.      Afif Abdul Fatah Thabarah
Afif Abdul Fatah Thabarah mengartikan islam secara etimologis berasal dari beberapa kata seperti Islam berasal dari kata as-salam yang berarti pasrah, tunduk, patuh dan menyerah. Islam berasal dari kata as-silm yang berarti damai atau aman. Dan terakhir menurut Afif Abdul Fatah Thabarah kata Islam berasal dari kata al-salamah yang berarti bersih dan selamat dari kecacatan lahir dan bathin.

B.     TERMINOLOGI ISLAM
1.      Endang Saefuddin Anshari
KH Endang Saefuddin Anshari  mengemukakan, setelah mempelajari sejumlah rumusan tentang agama Islam, lalu menganalisisnya, ia merumuskan dan menyimpulkan bahwa agama Islam adalah sistem aqidah dan tata aqidah yang mengatur segala perikehidupan manusia yang menyangkut hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
2.      Muhammad Syaltut
Menurut Syeikh Muhammad Syaltut, agama Islam adalah agama Allah yang memuat seperangkat ajaran, baik dalam pokok-pokoknya (ushul aqidah) maupun peraturan-peraturannya (syaria’ah) yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disebarluaskan kepada seluruh manusia agar manusia memeluknya.
3.      Sayyid Syabiq
Menurut Sayyid Syabiq Islam secara terminologis adaah agama Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dan  Islam adalah agama yang berintikan keimanan dan perbuatan.
4.      Mahyudin Syaf
Mahyudin Syaf mendefinisikan Islam secara terminologis sebagai agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW agar disampaikan kepada seluruh ummat manusia untuk menjamin kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.

C.     KARAKTERISTIK ISLAM
Menurut Muhammad Yusuf Musa, karakteristik Islam adalah sebagai beikut:
·        Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah ad-diniyah dan fitrah rabbaniyah.
·        Islam merupakan kesatuan agama sekaligus sebagai agama penyempurna.
·        Islam adalah agama yang praktis dan rasional.
·        Islam adalah agama yang mengajarkan tawazzun antara dunia dan akhirat.
·        Islam adalah agama yang memiliki kitab suci yang orisinil dan terjaga keasliannya.
·        Islam adalah agama peradaban yang berorientasi mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan.

D.    TUJUAN DITURUNKAN ISLAM MENURUT ALI AHMAD AL-JURJAWI
Menurut Ali Ahmad Al-Jurjawi, tujuan dari diturunkannya Islam adalah sebagai berikut:
·        Mengetahui Allah SWT serta mengesakan dan memuliakan-Nya dengan semua sifat kesempurnaan, baik sifat-sifat yang wajib, mustahil maupun yang bersifat jaiz.
·        Agar manusia mengetahui cara beribadah kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan nikmat-Nya kepada manusia yang begitu banyak.
·        Memerintahkan kepada manusia untuk berperilaku amar ma’ruf nahyi munkar yang dilandasi oleh ahlak yang mulia.
·        Menentukan sanksi bagi pelanggar hukum dengan aturan-aturan yang telah ditentukan.


E.     ORGAN UTAMA ISLAM
Organ utama Islam terdiri dari beberapa unsur. Adapun unsur-unsur tersebut adalah sebagai berikut:
·        Unsur Pencipta,  yakni Allah SWT yang Maha Esa.
·        Unsur pembawa, yakni Nabi Muhammad SAW, karena itu Islam bukanlah mohammadinisme. Nabi Muhammad hanya penerima amanat untuk disebarkan kepada ummat.
·        Unsur ajaran yang memuat sistem aqidah,  syariah, ibadah, akhlaq, dan tasawuf.
·        Unsur objek yaitu manusia.

F.      UNSUR UTAMA AJARAN ISLAM
Beberapa ulama memberikan pendapatnya mengenai unsur utama dalam ajaran Islam. Berikut adalah pendapat dari beberapa ulama tersebut:
·        Menurut Sayyid Sabiq adalah; aqidah dan ibadah.
·        Menurut Muhammad Syaltut adalah; aqidah dan syariah.
·        Menurut Endang Saefuddin Anshari adalah; aqidah, syariah dan akhlaq.
·        Menurut Husen Djajadiningrat adalah; aqidah syariah dan tasawuf.
·        Menurut Muhammad Natsir adalah; aqidah, syariah, dan nizham al-mujtama (muamalah).
·        Menurut T.M. Hasbi Ash Shiddieqy adalah I’tiqad, akhlaq dan amal sholeh.

G.    PILAR UTAMA ISLAM
Pilar utama Islam adalah sebagai mana yang tertuang dalam 5 rukun islam, yaitu:
1.      Mengucapkan dua kalimat syahadat.
2.      Mendirikan sholat.
3.      Membayar zakat.
4.      Melaksanakan puasa.
5.      Melaksakan ibadah haji.
H.    BENTUK ISLAM
Bentuk-bentuk islam terbagi menjadi tiga, yaitu:
1.      Islam idealita, adalah bentuk islam yang ideal, sempurna, dan holistic berdasarkan Al-Qur’an yang bersifat mujmal (global) dan Al-Hadits yang kebenarannya bersifat absolut (mutlak).
2.      Islam konseptualita, adalah bentuk Islam yang kebenarannya relatif berdasarkan konsepsi, interpretasi, dan penafsiran dikarenakan Al-Qur’an yang bersifat mujmal. Menurut bentuk Islam yang konseptualita, sebuah agama haruslah memiliki unsur agama yang terciptanya theology (ilmu yang mempelajari tentang Tuhan), dalam Islam sendiri disebut sebagai Ilmu Tauhid (esensi Tuhan) yang beriringan dengan munculnya Ilmu Kalam (Ilmu yang mewadahi pendapat manusia tentang esensi, eksistensi, dan transfigurasi Tuhan). Selanjutnya adalah agama harus memiliki ritual atau praktek tata cara ibadah, dalam Islam sendiri berkaitan dengan ritual ibadah ini dibahas dalam ushul fiqh dan fiqh. Agama juga harus mampu mengatur hubungan sosial dan mystical (mengatur hati) penganutnya. Yang terakhir adalah dari agama juga mampu menghasilkan manusia-manusia yang intelektual.
3.      Islam realita atau aktualita, adalah Islam yang ada pada kenyataan, yang dilihat, dan dirasakan saat ini yang direkam dan ditulis oleh sejarawan melalui prilaku orang Islamnya itu sendiri yang tidak ada pada masa lalu. Fenomena-fenomena Islam saat ini baik itu dibolehkan atau tidak adalah sebagai berikut:
·      Nikah via online.
·      Jual beli online.
·      Kawin kontrak.
·      Bank ASI dan sperma.
·      Bayi tabung.
·      Kloning.
·      Jual beli organ tubuh.
·      Operasi Plastik.

NILAI POSITIF DAN NEGATIF ISLAM

RESUME PENGANTAR STUDI ISLAM

A.       Pengertian Pengantar Studi Islam
·      Etimologis, bahasa Arab (Dirasah Islamiyah).
·      Harfiah, kajian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan islam.
·      Sederhana, usaha untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan islam.
·      Studi islama, usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama islam, baik ajaran, sejarah, maupun praktik-praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

B.       Urgensi Studi lslam
Adapun urgensi studi islam dapat dipahami sebagai berikut:
1.    Umat islam saat ini berada dalam kondisi problematik
Umat islam pada saat ini berada pada masa yang lemah dalam segala aspek kehidupan sosial budaya  yang mana harus berhadapan dengan dunia modern yang serba praktis dan maju,sehingga umat islam memang berada dalam suasana problematik. Oleh karena itu, disinilah pentingnya studi islam yang dapat mengarahkan dan bertujuan untuk mengadakan usaha-usaha pembaharuan dan pemikiran kembali ajaran-ajaran agama islam yang merupakan warisan ajaran yang turun temurun agar mampu beradaptasi dan menjawab tantangan serta tuntutan zaman dan dunia modern dengan tetap berpegang pada sumber ajaran islam yang murni dan asli, yaitu al-quran dan As sunnah.
2.    Kekayaan islam yang sudah dimiliki harus dipelajari
Disinilh urgensinya studi islam, yaitu untuk menggali ajaran-ajaran islam yang kaya, dan yang bersifat asli dan murni. Dari situlah kemudian dididikkan dan ditransformasikan kepada generasi penerusnya yang bisa menawarkan alternative pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh umat islam dalam dunia modern dalam pelestarian kekayaan islam.
Studi islam juga dapat diharapkan mampu memberikan pedoman dan pegangan hidup bagi umat islam agar tetap menjadi seorang muslim sejati yang hidup dalam dunia modern dan mampu menjawab tantangan serta tuntutan zaman modern maupun era global sekarang.

C.     Nilai - Nilai Dalam Perkembangan Islam
Sebagai dampak dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tentunya perkembangan islam juga mengalami perubahan dan perkembangan yang cukup berarti. Karena kita tahu bahwa usia islam saat ini sudah hampir 14 abad menurut perhitungan tahun hijriah. Sebagian dampak itu ada yang bersifat positif dan ada pula yang bersifat negatif.
1.    Nilai Positif
Nilai positif akan perkembangan islam dari dulu sampai sekarang yang dapat kita ambil pelajarannya antara lain:
1)   Pengalaman (Ibadah)
Dari pengalaman-pengalaman perjalanan islam pada masa lalu, kita dapat mengambil pelajaran bahwa untuk menjalani kehidupan khususnya dalam hal ini adalah beribadah kita bisa mencari referensi dan pengalaman (experience) dari umat islam di masa lalu sampai saat ini.
2)   Sejarah
Dalam sejarah terdapat dua unsur penting, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Apabila kita dapat mengambil nilai positif dari perkembangan islam yang dalam hal ini adalah sejarah secara intrinsik, maka kita akan menjadi seorang yang berlogika plurikausal bukan logika yang monokausal. Logika plurikausal adalah logika yang tidak hanya terpacu pada satu faktor saja, sedangkan logika monokausal adalah logika yang hanya terpacu pada satu faktor saja atau biasa disebut sebagai logika hitam-putih.
Selain logika, dalam sejarah ada juga yang dinamakan dengan etika atau nilai, estetika atau keindahan.
3)   Sosialisasi (Ukhwah Islamiyah)
Ukhuwah Islamiah (persaudaraan Islam) adalah satu dari tiga unsur kekuatan yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di zaman Rasulullah yang bertahan hingga saat ini.
4)   Ijtihad
Pengertian Ijtihad secara umum adalah sebuah usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al-Qur'an dan Hadist dengan syarat menggunakan akal sehat dan juga pertimbangan matang. Tujuan ijtihad adalah memenuhi keperluan umat manusia dalam beribadah kepada Allah di tempat dan waktu tertentu. Sedangkan fungsi ijtihad adalah untuk mendapatkan solusi hukum, jika terdapat suatu masalah yang harus diterapkan hukumnya, namun tidak dijumpai pada Al-Qur'an dan Hadist.
5)   Kebudayaan
Sudah kita tahu bahwa kebudayaan islam sangatlah luar biasa. Untuk itu, dari kebudayaan islam ini pula kita dapat mengambil banyak nilai positifnya.
6)   Metode penyebaran islam
Islam menjadi kekuatan terbesar di dunia karena di masanya saat itu islam mampu menyebarkan ajarannya sampai ke seluruh pelosok dunia karena metode penyebarannya yang baik.
7)   Pendidikan (Ilmu Pengetahuan)
Banyak tokoh-tokoh cendekiawan islam yang dapat kita teladani dengan segala penemuan dan pembaharuannya.
8)   Kuantitas dan kualitas
Dari metode penyebaran islam yang baik dan banyaknya tokoh-tokoh ilmuan islam pada perjalanan islam sampai saat ini menyebabkan kuantitas umat islam menjadi banyak dan dengan kualitas yang baik.
Selain delapan nilai positif diatas terdapat nilai positif lainnya yang dapat kita ambil dari perjalanan dan perkembangan islam dari dulu sampai sekarang, antara lain:
9)   Muamalah
10)     Kebenaran yang hakiki, dan
11)     Nilai-nilai yang terkandung dalam islam, seperti pragmatika atau progmatis yaitu mencari nilai guna dari sesuatu yang dianggap tidak berguna.
2.    Nilai negatif
Siapa bilang perkembangan islam dari dulu sampai sekarang hanya memberikan nilai positif saja? Perlu diketahui pula bahwa perjalanan islam selama lebih dari 14 abad tersebut juga dapat memberikan nilai negatif. Dimana nilai-nilai negatif tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:
Berdasarkan diskusi kelompok satu, yaitu:
1)   Umat muslim terpecah belah.
2)   Banyak terjadi kemusyrikan dengan munculnya nabi-nabi palsu.
3)   Tingginya kepercayaan terhadap takhayul.
Berdasarkan diskusi kelompok dua, antara lain:
1)   Kejayaan islam menurun.
2)   Pemisahan dunia dan akhirat.
3)   Salah pemaknaan tentang adanya toleransi dalam islam (Q.S. Al-Kahfi:29 atau Q.S. Al-Imran: 28).
4)   Mudah menjustifikasi.
5)   Rukhsah menjadi kelakuan.
6)   Perbedaan golongan (Q.S. Ar-Rum: 22 atau Q.S. Al-Imran: 103 dan 105).
7)   Banyak bermunculan pemikiran baru yang tidak merujuk pada syariat islam, Al-Quran dan As-Sunnah.
8)   Sudut pandang terhadap islam.
Berdasarkan diskusi kelompok tiga, yaitu:
1)   Nilai-nilai islam yang diselewengkan.
2)   Timbulnya pertentangan antar madzhab.
3)   Islam yang radikalisme.
4)   Merasa dirinya paling benar.
5)   Politik islam yang diselewengkan.
Berdasarkan diskusi kelompok empat, yaitu:
1)    Asimilasi budaya islam.
2)    Penyelewengan nilai islam.
3)    Paham liberalisme (Kebebasan).
4)    Pandangan negatif terhadap islam.
5)    Hilangnya nilai islam dalam kehidupan sehari-hari.
6)    Aqidah yang mulai memudar.
7)    Perpecahan umat islam.
8)    Munculnya paham radikal terhadap era globalisasi.
Berdasarkan diskusi kelompok lima, antara lain:
1)   Krisis identitas muslim.
2)   Banyaknya bermunculan islam radikal.
3)   Munculnya hadits palsu.
4)   Pergeseran identitas islam.
5)   Menurunya budaya luhur.
6)   Sikap krisis total terhadap peradaban barat dengan 5F (Fun, Food, Fashion, Free Sex, And Film).
7)   Penyelewengan aqidah.

8)   Krisis akhlak umat islam.

TEKS PIDATO SINGKAT ALA JUJUN JUNAEDI

Bismillahirohmanirrohim...
السَلامُ عَلَيْكُم وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُه
Sepertinya, para hadirin sekalian masih pada ngantuk, jadinya jawaban salamnya kurang kompak, baiklah kita ulangi sekali lagi dengan penuh semangat seperti saat sedang demo kenaikan BBM.
السَلامُ عَلَيْكُم وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُه
Jamaah muslimin wal muslimah yang dirahmati oleh Allah.
Jika kita sedikit saja menengok sedikit tentang segala nikmat yang kita terima sejak kita bangun tadi. Insyaallah, sampai tangan kita pegal-pegal tak akan sanggup untuk menghitungnya. Bayangkan saja, saat kita masih di ijinkan untuk dapat membuka mata, melihat indahnya matahari pagi, dapat merasakan segarnya air wudhu yang membasahi wajah, itu sudah merupakan suatu anugerah Allah yang tak dapat tergantikan dengan apapun di dunia ini.
Pertanyaan saya, ketika kita telah merasakan hal itu, sudahkah kita sejenak untuk bersyukur? Bagi yang belum, marilah menundukkan kepala sejenak untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Alhamdulillahirobbil alamiin...
Tapi tampaknya, hampir sebagian dari hadirin sekalian sudah sering sekali bersyukur. Bagaimana saya tahu? Jangan bilang “cieee dukun” benar-benar bukan, saya bukan dukun. Karena dukun merupakan salah satu jenis dosa yang harus kita hindari, saya tahu bagaimana hadirin terlihat sebagai orang yang sering bersyukur. Terlihat dari pancaran cahaya yang datang dari hadirin sekalian, dan cahayanya subhanallah sungguh begitu menyilaukan. Terlebih lagi ditambah dengan sorotan lampu dari atas. Hmm... semakin menyilaukan sampai saya sendiri bingung, mana pancaran dari para hadirin atau mana yang pancaran lampu.
Jamaah muslimin wal muslimah yang dirahmati oleh Allah SWT.
Telah kita ketahui bersama bahwa Nabi Muhammad dilahirkan pada tahun gajah, tepatnya tanggal 12 Rabiul Awal. Kenapa dinamakan dengan tahun gajah? Karena memang pada saat itu sedang terjadi penyerangan pasukan gajah untuk menghancurkan ka’bah yang dipimpin oleh raja Abrahah.
Suatu ketika ada seseorang bertanya kepada saya “Ketika saya dilahirkan. Kata ibu saya, saya dilahirkan dengan bantuan seorang dukun beranak, dan pada saat itu katanya juga sedang ada pasukan semut yang banyak sekali di rumah dukun tersebut. Berarti saya lahir pada tahun semut dong?” Ya, memang benar itu pasukan semut, namun bukan berarti terus kemudian dinamakan tahun semut, kan? Hmm...
Nabi Muhammad SAW lahir di dunia ini tidak hanya sekedar untuk menikmati indahnya dunia. Namun lebih dari itu, Nabi Muhammad membawa misi yang luar biasa untuk membawa manusia dari keadaan gelap menuju keadaaan yang terang. Berarti Nabi Muhammad petugas PLN dong? tentu bukan itu maksudnya. Maksudnya adalah tentang membawa manusia yang awalnya dalam keadaan jahiliyah kemudian diangkat menjadi manusia yang lebih bermartabat, lebih berperikemanusiaan, dan tentunya menjadi makhluk yang sebenar-benarnya makhluk yang memiliki tugas untuk beribadah kepada Allah.
Nabi Muhammad merupakan seorang suri tauladan yang baik bagi kita, sehingga idolakanlah nabi kita sendiri, jangan malah mengidolakan artis Korea yang jelas tidak baik untuk akhlak kita.
Demikian pidato kali ini, mohon maaf apabila ada kesalahan... 
وَ بِاللهِ تَوْفِقِ وَ الهِدَايَةِ وَالرِّضَى وَالعِنَايَةِ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

RESENSI BUKU 101 DOSA PENULIS PEMULA

RESENSI BUKU “101 DOSA PENULIS PEMULA” MENGUPAS INTI SARI WORKSHOP MENULIS ASMA NADIA

Judul                            : 101 Dosa Penulis Pemula
Penulis                          : Isa Alamsyah
Co Writer                    : Asma Nadia
Coach Editor              : Asma Nadia
Editor                          : Armiadi Asamat
Desain Sampul  : Wasi Kendedes
Ilustrasi Isi                    : Wasi Kendedes
Layout                         : Isa Alamsyah
Proofreader                : Armiadi Asamat, Alie Isfah, Ika Prasetya
Penerbit                        : AsmaNadia Publishing House, 2014
Jumlah Halaman            : ___ + 350 hlm.; 20,5
ISBN                           : 978-602-9055-24-5
Harga                           : Rp. 58,000,00

Ada dua cara belajar kepenulisan. Cara pertama adalah memberi tahu bagaimana menulis yang baik dengan berbagai teori. Metode ini lazim dilakukan di sekolah dan lembaga pendidikan. Cara kedua adalah belajar dari kesalahan sendiri atau orang lain sehingga terhindar dari kesalahan yang sama. Metode diterapkan secara alamiah dalam kehidupan.
Dari jatuh, seorang anak belajar berdiri, berjalan, dan berlari.
Dari gagal, kita belajar untuk sukses.
Dari masalah, kita berpikir mencari solusi.
Dari mengetahui dosa-dosa dalam menulis, kita mengerti bagaimana menulis dengan benar dan menarik.
Sinopsis:
Tidak ada penulis yang sempurna.
Setiap penulis pasti pernah melakukan "dosa" kepenulisan dalam proses kreatifnya.
Di antara dosa-dosa kepenulisan, banyak dosa sejenis yang pernah dilanggar hampir semua penulis.
Buku ini mengumpulkan daftar dosa kepenulisan yang paling sering dilanggar penulis pemula, bahkan penulis profesional.
Daftar dosa disusun berdasarkan pengamatan atas ribuan tulisan yang berasal dari peserta lomba atau peserta workshop kepenulisan yang digawangi Asma Nadia, peserta privat/coaching buku, posting-an di Komunitas Bisa Menulis dan juga karya tulis yang sudah beredar di tengah masyarakat.
Dari berbagai karya yang ada, seringkali ditemukan pelanggaran khas yang dilakukan secara berulang nyaris oleh semua penulis pemula.
Dari semua kesalahan yang sering dilanggar, terkumpul daftar 101 dosa penulis pemula. Sebenarnya masih banyak dosa lain yang juga sering dilanggar, tapi sementara, terhindar dari 101 dosa ini saja, sudah cukup untuk membuka kemungkinan masuk dalam surganya para penulis.
Apa itu? Karyanya dihargai, diakui, memberi sesuatu pada pembaca, dan tidak mustahil jika memberi banyak manfaat dan kontribusi bagi perubahan dunia yang lebih baik, akan membawa penulis ke surga yang sesungguhnya di akhirat nanti.
Dari sinilah terkumpul daftar 101 dosa penulis pemula, yang bisa dibilang daftar dosa standar yang wajib diinsafi untuk bisa masuk ke dalam surga para penulis.
Ke-101 dosa dipilah ke dalam 12 bagian dengan sub judul bagian, sesuai kategori dosa. Diawali dengan bagian Lima Dosa Utama dan diakhiri dengan Lima Dosa Terkait Mental dan Sikap Penulis.
Pemilihan kata "dosa" memang terkesan kontroversial sekaligus menohok. Untuk itu, di bagian awal buku sudah dicantumkan simbol ralat agar dapat menempatkan makna dosa sebagai kesalahan.
Review:
"Tidak ada penulis yang sempurna!" begitu kata Isa Alamsyah pada pembukaan buku '101 Dosa Penulis Pemula'. Pertama kali saya membaca kalimat awalnya ini saya sudah berpikir bahwa dalam sebuah karya memang ada penilaian sudut pandang dari macam-macam pembaca, tergantung siapa pembacanya. Apa ia termasuk pembaca 'selintas' atau 'bersungguh-sungguh' membaca sehingga ia bisa mendapatkan ilmu yang dipahami dari hasil bacaannya.
Berbicara tentang "ketidaksempurnaan" seorang penulis, Isa Alamsyah dalam bukunya menganggap sebagai 'dosa' yang dilakukan seorang penulis atas dasar ketidaksempurnaannya dalam tulisan. Kata 'dosa' menjadi pilihan penulis dalam mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang seringkali dibuat oleh penulis pemula.
Dalam buku ini, Isa Alamsyah membagi dalam 17 bagian kesalahan yang seringkali dibuat oleh penulis pemula (walaupun dalam cetakan ini, sepertinya Pak Isa Alamsyah lupa bahwa setelah bagian ke 16, langsung bagian 12, bukan bagian 17. Silahkan diperiksa kembali).
Buku yang cukup tebal ini didominasi warna hitam di bagian sampulnya dengan foto sang penulis yang sedang mencermati tulisan menggunakan kaca pembesar. Desain ini cukup menarik dan menggambarkan isi buku sendiri, yang mengupas inti sari workshop menulis Asma Nadia. Dengan adanya endorsement dari Asma Nadia selaku penulis sekaligus CEO penerbit buku 101 Dosa Penulis Pemula ini, buku ini juga bisa dibilang termasuk buku yang disarankan dan menarik perhatian pembaca di toko buku.

Kelebihan:
Pemilihan judul cukup menggelitik, unik, dan memicu kontroversi. Ini menjadi salah satu ciri khas Asma Nadia Publishing House, di mana beberapa judul bukunya memang dipilih sedemikian rupa sehingga menarik perhatian pembaca tanpa melupakan gambaran isi buku yang sesungguhnya. Simak saja judul buku motivasi Agung Pribadi berjudul “Gara-Gara Indonesia”, atau karya laris Asma Nadia, “Salon Kepribadian, Jangan Jadi Muslimah Nyebelin”. Saya sendiri memutuskan membeli buku 101 Dosa Penulis Pemula ini karena tergoda membaca judulnya, apalagi setelah mengetahui bocoran ringkas isi buku. Terkait pemilihan judul buku yang tepat ini juga dibahas dalam bagian empat “Delapan Dosa dalam Judul”, terutama di bagian dosa ke-15 dan ke-16. 
Dikatakan, “Banyak karya penulis pemula yang tidak dilirik penerbit karena judulnya tidak greget.” (halaman 47).
“Judul menggebrak berarti ada keunikan, punya daya dobrak, greget, atau provokatif. Memilih judul yang menggerakkan akan mengundang pembaca ingin tahu isi tulisannya.” (halaman 47).
Mengapa penulis pemula? Sesungguhnya seperti disinggung di depan, tidak hanya penulis pemula saja yang mungkin melakukan kesalahan dalam proses kreatifnya. Penulis senior yang sudah mengantongi jam terbang tinggi pun tak luput dari cela. Bisa kita buktikan dari novel-novel atau buku-buku nonfiksi karya mereka yang biasanya masih menyelipkan typo (kesalahan ketik atau ejaan). Namun logisnya, penulis pemula memang rentan melakukan lebih banyak kesalahan mendasar. 
Alur dosa yang dipaparkan disusun berdasarkan bagian dalam sebuah karya fiksi, meskipun tidak menutup kemungkinan bisa juga diterapkan dalam menulis nonfiksi. Contoh-contoh paragraf yang dicantumkan pun nyaris seluruhnya diambil dari karya fiksi anggota grup Komunitas Bisa Menulis. Antara lain, pengulangan kata, kalimat tidak efektif, ide yang klise, judul tidak menarik, opening tulisan yang tidak menggebrak, terlalu banyak konflik, ending yang tidak logis, tidak ada lanjaran, narasi bertele-tele, pembaca tidak terikat secara emosional dengan karakter, miskin kosa kata, setting tempelan, dialog tidak cerdas, POV tidak konsisten, tidak paham konsep alur-plot, nihil pesan, hingga kepribadian sebagai penulis yang malas dan cepat puas.
Pemaparan yang gamblang disertai contoh konkrit menjadi daya tarik buku ini, apalagi jika mengingat target utama pembacanya yang merupakan penulis pemula. Coba kita simak kutipan berikut:
“Seharusnya sejak awal seorang penulis berpikir untuk menemukan ide yang unik dan tidak biasa. Menyajikan hal baru dalam karyanya. Pertanyaan yang muncul dalam benak seorang penulis harusnya bermula dari: apa yang akan saya tulis? Apa yang membedakannya dari tulisan yang telah ada? Bagaimana membuat tulisan saya berbeda atau lebih baik dari tulisan yang telah ada? Apa hal unik yang bisa saya gagas?” (halaman 31).
“Opening bertele-tele juga bisa terjadi karena penulis menceritakan banyak aktivitas secara kronologis atau berurutan, tapi informasinya tidak terlalu penting. Misalnya; Sepulang sekolah, setelah berganti pakaian, makan siang, lalu sholat zhuhur, dst (opening karya H. Mahfuzhoh).” (hal. 77).
Banyak pula tips dan catatan khusus yang disisipkan di satu halaman tersendiri dengan font berbeda. Misalnya, tips menulis Aku dan Ku dalam tulisan (halaman 8). Hal ini tentunya makin memudahkan pembaca untuk memahami materi.
Keunggulan lain buku ini adalah dicantumkannya rekomendasi buku-buku maupun film yang mendukung pemahaman pembaca terkait materi di beberapa babnya.
Contohnya di halaman 97 penulis menyebutkan buku No Excuse! Dan menyatakan bahwa pembaca bilang seperti ditampar-tampar ketika membaca, sebagai contoh nyata buku yang membekas di hati dan benak pembaca. Juga dimunculkannya novel motivasi Mengejar-ngejar Mimpi sebagai penegas bahwa baik dalam karya fiksi maupun non fiksi, juga tulisan ringan, sangat perlu memasukkan konflik, peristiwa, atau masalah, hingga sebuah karya menjadi lebih kuat. (hal. 98).
Simak juga penjabaran mengenai alur bertingkat waktu dan alur lintas waktu. Penulis menyertakan sederet novel dan film sebagai rekomendasi bahan belajar dan memperkaya imajinasi serta kreativitas sebagai penulis (hal. 264).
Selama menyimak penjelasan demi penjelasan dalam buku ini saya seringkali tersindir, mengangguk setuju atau tersenyum-senyum membaca contoh-contoh yang disodorkan, karena saya pun pernah melakukan kesalahan serupa. Artinya, buku ini berhasil mengikat saya secara emosional dan membuat saya terus membuka lembar demi lembarnya, yang mana ini merupakan salah satu ciri buku non fiksi yang bagus.
Ilustrasi di tiap halaman turut mempercantik penampilan dan menghibur mata yang cukup ‘lelah’ memelototi kalimat demi kalimat penjelasan materi yang cukup serius dan berat.

Kekurangan:
Pada dasarnya, setiap hasil karya yang dihasilkan oleh sesorang tidaklah luput dari kesalahan. Begitupun pada buku 101 Dosa Penulis Pemula ini. Kesalahan cetak penulisan urutan bagian buku, yakni yang seharusnya ditulis bagian 17 tetapi dalam buku cetakan tersebut tertulis bagian 12 menjadi salah satu kekurangan dari buku ini, walaupun lebih banyak kelebihan yang nantinya akan pembaca dapatkan dari buku 101 Dosa Penulis Pemula ini.

Penutup:

Secara keseluruhan, saya sangat terbantu dengan hadirnya buku ini. Penjabaran di dalamnya tidak hanya menekankan teori yang rumit, namun juga bersifat aplikatif. Sebagai pembaca sekaligus peminat dunia kepenulisan (apalagi di dalam jurusan Komunikasi Penyiaran Islam terdapat ranah Kitabah yang mana buku ini dapat menunjang mahasiswanya dalam mempelajari ranah tersebut). Kita diharapkan mempraktikkan isinya, tidak sekadar mengangguk-angguk paham lalu menguap begitu saja sejalan berlalunya waktu.